Belajar “Ilmu Tiga” Ida Bagus Mantera


by: Hermawan kartajaya

PADA Suatu hari dalam sebuah seminar, saya bertemu Dr Ida Bagus Mantera di Jakarta. Ketika itu, saya sudah mulai lebih banyak beraktivitas di Ibu Kota. Pak Mantera waktu itu adalah Country CEO untuk IBM di Indonesia Beliau orang pintar dan suka mengajar.
IBM ketika itu dianggap sebagai satu satunya “School Of Management” di Indonesia. Artinya, Anda bisa belajar banyak ilmu manajemen dengan bekerja di situ. Persis kayak Unilever yang “School Of Marketing”. Dan Citibank yang “School Of Banking”. Karena kenal Pak Mantera, saya jadi sering keluar masuk kantor pusat IBM di Jakarta. Saya lantas menarik Pak Mantera untuk menjadi ketua umum AMA Indonesia (organisasi ini memisahkan diri dari IMC atau Indonesia Managers Club).
Salah satu pelajaran yang berharga buat saya dari Pak Mantera adalah “Ilmu tiga”! Setiap kali melihat Pak Mantera bicara, saya terkagum-kagum. Pengetahuan managemennya sangat dalam. Slides-nya selalu bagus. Time Management juga rapi, tidak pernah bicara kependekan (terlalu pendek) atau kepanjangan.
Selain itu, yang paling penting adalah sistematik. Ketika saya tanya rahasianya untuk aspek terakhir, jawabnya ya “Ilmu Tiga” itu. Beliau bilang, pada waktu itu, baru saya ikut sebuah kursus di Australia yang namanya “Think on Your Feet!” Artinya, bagaimana kalau Anda tahu-yahu (tiba-tiba) dipanggil untuk bicara atau memberikan sambutan. Padahal, Anda tidak punya persiapan sama sekali. Jadi, sambil berdiri dan berjalan menuju panggung atau mimbar, Anda mesti bisa segera mikir tetang apa yang mau diucapkan. Yang penting bagus ya “tiga” itu!
Dua terlalu sedikit, kelihatan “kurang berisi”. Lebih dari tiga agak susah “ditangkap” orang. Atau kalau mau lebih dari tingga, ya “lima” sekalian, seperti Pancasila yang dahsyat itu. Dan kalau mau lebih dari lima ya sekalian “sepuluh”. Lihat aja The Ten Commandment atau Sepuluh Perintah Allah di Perjanjian Lama. Tapi, yang praktis ya tiga itu.
Pak Mantera lamtas bercerita bahwa orang Bali punya Tri Hita Karana, yaitu keseimbangan dalam hidup. Antara God, Nature, and People! Kalau keseimbangan ini terganggu, maka kehidupan masyarakat pun akan terganggu.
Urutanya bagus juga kan. Tuhan atau God duluan karena punya tingkatan paling tinggi. Setelah itu alam yang diciptakan Tuhan. Dan akhirnya manusia atau People. Kalau ketiganya seimbang, maka “taksu”-nya akan kuat. Penggambaranya, Tuhan di atas, alam bisa di kiri dan manusia di kanan. Jadi ada hubunhan “vertical” dan “Horizontal”.
Perguruan tinggi punya Tri drama yang urutannya penelitian, pengajaran, dan pengabdian. Research, teaching, and service! Urutannya biasanya seperti itu. Karena riset adalah “Pengembangan Ilmu” jadi disebutkan duluan, baru “pengajaran ilmu” kepada mahasiswa. Baru terakhir “mengabdikan ilmu” itu kepada masyarakat luas.
Supaya sistematik. Anda bisa pakai “waktu” sebagai dimensi. Past, present, and future misalnya! Bisa saja, Anda tiba-tiba diminta memberikan “sepatah dua patah kata” atau “sekapur sirih” pada suatu pertemuan antarsiswa eks SMA misalnya.
Anda sambil jalan ke mimbar, sambil mikir tentang masa lalu (persepsi pada waktu Anda sekolah di situ), masa sekarang (persepsi Anda pada sekolah tersebut sekarang) dan masa ddepan (Harapan Anda akan sekolah tersebut di masa mendatang).
Tapi, Anda juga bisa meninjaunya dari sisi guru, siswa, dan administratornya. Itu kalua mau pakai dimensi “manusia” di sekolah. Bisa juga dilihatr dari dimensi alumninya saja, misalnya, yang sukses, normal, dan gagal! Jadi satu masalah bisa :dibedah” dari berbagai segi. Tinggal dimensinya saja yang bisa diganti-ganti. Time, and Space Dimension tentu yang paling popular. Dimensi Waktu (past, present, future) atau ruang (internal, external, environmental).
Nah, setelah dipilih satu dimensi dengan tiga aspek, Anda bisa mengembangkanlagi dengan tiga hal lagi untuk tiap tiap aspek. Jadi bisa tiga kali tiga jadi Sembilan. Atau terus bisa jadi dua puluh tujuh dan seterusnya. Selain itu! Anda harus mengatakan dimensi yang dipilih di depan sambutan atau penulisan sebagai “executive summary”. Dengan demikian, audiens sudah ter-‘frame” ketika mendengarkan ‘isi” dari “frame” tersebut! Hal ini bisa dilatih, kata Pak Mantera.
Waktu itu, beliau sebenarnya mengajak saya untuk jadi “asisten” pelatihan itu pada orang lain. Tapi hal itu memang tak pernah kejadian dan saya pun tak pernah melihat materi aslinya. Namun, saya benar benar terkesan dengan “ilmu tiga” yang dituturkan secara tak sengaja tersebut. Apalagi, sebagai orang eks Sampoerna pasti saya percaya pada ampuhnya angka Sembilan! Bahkan kata MARKETING sendiri bisa diurai di tiga kali tiga: MAR-KET-ING!
Karena itu p[ula, logo pertama Mark Plus Profesional Service adalah tiga kotak kubus yang berjumlah Sembilan. Tiga di atas: MAR, tiga di tengah: KET dan tiga di baris bawah: ING!
Inspirasi “ilmu tiga: itu begitu kuat saya pegang,sehingga Sembilan Elemen saya dimulai dari STRATEGY (Segmentation, Targeting, Positionning atau STP) untuk memenangkan Mind-Share Diteruskan dengan TACTIC (Differentialtion, Marketing Mix, Selling atau DMS) untuk memenangkan Market-Share. Dan diakhiri dengan VALUE (Brand, Service, Proses atau BSP) untuk memenangkan Heart-Share!
Begitu juga dengan konsep 4C yang terdiri atas Landscape yang harus dihadapi Company (C pertama), Landscape nya sendiri ada tiga yaitu Customer, (C kedua), Competitor (C ketiga), dan Change(C keempat).

Sumber: Sumatera Exspres 10/03/10 (Grow With Caracter Seri: 47)

Silakan Berkomentar dan Mari Berbagi..!!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s