2 + 2 TIDAK SELALU 4


Para pendukung gagasan tim kerja seringkali  mengatakan bahwa salah satu alasan perusahaan-perusahaan bisnis harus diorganisir dalam bentuk tim-tim kerja ialah karena tim-tim kerja itu akan bias menciptakan sinergi yang positif. Dengan kata lain, output produktifita dari sebuah tim akan menjadi lebih besar dari pada jika para anggota individu bekerja secara sendirian karena semangat kerja tim akan mendorong upaya-upaya individu. Jadi 2 + 2 bisa saja sama dengan 5. Padahal kenyataannya ialah bahwa tim-tim kerja itu sering kali menciptakan sinergi yang negative. Ketika bekerja secara kolektif,para individu menghabiskan energy lebih kecil dibandingkan dengan bekerja secara individual, sehingga 2 + 2 bisa sama dengan 3! Mengapa hal ini bisa terjadi? Yakni karena apa yang disebut sebagai kemalasan kolektif (social loafing).

Pada akhir tahun 1920-an, seorang psikolog Jerman bernama Max Ringelmann membandingkan hasil-hasil kenerja yang dicapai oleh individu dan kelompok dalam sebuah tugas kerja tarik tambang. Dia berharap agar upaya kerja yang dikeluarkan oleh kelompok akan sama dengan jumlah dari upaya-upaya individu dalam kelompok tersebut. Sebagai missal, tiga orang yang secara bersama-sama menarik tambang besarnya akan sama dengan tiga kali upaya seorang individu dalam kelompok tersebut dan delapan orang akan mengeluarkan upaya sebesar delapan kali upaya individu. Namun, hasil penelitian Ringelmann justru tidak membenarkan dugaan-dugaan ini. Kelompok-kelompok kerja dengan tiga orang justru hanya mengerahkan upaya kerja sebesar dua setengah kali dari upay kerja rat-rata individu. Kelompok delapam orang mengerahkan upaya kerja malah kurang adari empat kali dari tingkat upaya kerja seorang individu.

Pengulangan atas penelitian Ringelmann dengan tugas kerja yang sama juga secara umum mendukung hasil temuan ini. Peningkatan jumlah kelompok berbanding terbalik dengan kinerja individual. Barang kali lebih baik bila dikatakan bahwa total produktivitas dari sebuah kelompok yang terdiri dari empat orang lebih besar daripada total produktivitas satu atau dua orang, namun produktivitas individual dari setiap anggota kelompok menurun.

Apak efek dari kemalasan social ini? Barang kali hal ini disebabkan oleh keyakinan bahwa orang-orang lain dalam kelompoknya tidak mendapatkan beban kerja seberat dia. Jika Anda melihat orang lain bermalas-malasan atau ogah-ogahan, maka Anda bisa merasakan Adil dengan cara menurunkan tingkat kerja Anda. Sebab yang lain ialah penyebaran tanggung jawab, karena hasil-hasil yang dicapai oleh kelompok-kelompok tidak bisa dilekatkan pada seorang individu dalam kelompok tersebut, maka relasi antara input seorang individu dengan output kelompok kerja menjadi tak jelas. Dalam situasi-situasi semacam itu, individu-individu bisa tergoda untuk menjadi “pemain bebas” dan menurunkan efisiensi ketika para individu berpandangan bahwa sumbangsih mereka tidak bisa diukur.

Apakah implikasi-implikasi dari kemalasan social terhadap perancangan tim-tim kerja ini? Ketika Anda menggunakan tim-tim kerja untuk meningkatkan semangat kerja atau untuk meningkatkan koordinasi. Anda harus juga menyediakan sarana-sarana untiuk menidentifikasi dan mengukur upaya-upaya kerja individual. Jika hal ini tidak dilakukan. Anda harus berhadapan dengan kemungkinan hilangnya produktifitas sebagai akibat tak adanya kepuasan kerja dari para karyawan.

Sumber: Ronald O’reilly, 2003. 63 Ways How to Boots Your Employes.Global Business review-USA

3 thoughts on “2 + 2 TIDAK SELALU 4

  1. (2+2)<4
    menurut saya pribadi, selain karena kemalasan sosial, bisa juga karena tidak ada relationship antar entitas. misalnya, dalam sebuah tim, isinya adalah mantan/masih sebagai organisator di organisasi lain. bukan karena mereka sibuk dengan organisasi di luar sistem, tapi mereka seolah-olah menjadi pemimpin di organisasi itu. jadi jika pemimpinnya memberi intruksi, mereka menafsirkan sesuai dengan perspektif masing-masing, atau mereka cenderung tidak patuh kepada kepalanya. atau contoh lain yang mencirikan tidak adanya relationship (atau tingkat lebih tinggi adalah sinergisitas).
    jadi, setiap sistem adalah sebuah subsistem di dalam sistem yang lebih besar. setiap sistem terdapat entitas, tujuan, relationship, dan limitasi.

  2. Bekerja ibarat berorganisasi. Di sana tempat bertemunya beragam karakter dan kepribadian untuk tujuan yang sama. Namun yang kerap terjadi gesekan antar individu kerap mengaburkan tujuan itu. Semakin produktif sebuah Tim, menunjukkan kekompakan tim tersebut. Dalam tim, keahlian individu bukan penentu kesuksesan. “Jika mereka jalan sendiri, kurang koordinasi, jarang berkomunikasi, maka tim hanya kuat di luar namun berantakan di dalam.

    Selain produktivitas, kekompakan terlihat dari kualitas hasil kerja dan kecepatan kerja. Jika target tidak tercapai, pekerjaan molor, sering mengalami konflik internal, dan tidak mampu bekerja sama dengan tim lain, “Mungkin tim tersebut mengalami gesekan antar anggotanya.

    Jika yang terjadi demikian, pemimpin, harus mengambil tindakan strategis antara lain:

    1. Ketahui kelemahan dan kelebihan anak buah. Bagi pekerjaan sesuai keahlian anak buah dan jangan sampai pekerjaan menumpuk pada satu orang.

    2. Seringlah bersama tim kerja Anda. Jangan berkumpul hanya sekadar untuk brainstorming masalah pekerjaan, mendiskusikan rencana serta target tim. Sesekali tanya hal pribadi. Setiap anggota harus tahu dengan siapa mereka bekerja, dan tujuannya. Ini semua untuk membangun kepercayaan.

    3. Ciptakan transparansi dan komunikasi yang efektif. Kesalahpahaman sering menjadi penyebab ketidakkompakan tim. Keluhan, ketidakpuasan, serta ide-ide yang tidak tersampaikan merupakan bom waktu yang setiap saat bisa merusak tim. Pemimpin yang baik mampu menjadi penengah dan pendengar atau menjadi teman curhat. Anak buah kerap merasa segan bercerita pada Anda dan memilih team leader lain yang lebih simpatik untuk menumpahkan keluh kesah.

    4. Buat kesepakatan tidak tertulis tapi tetap mengikat dengan tujuan memperkecil konflik. Misalnya, jika ada anggota tim yang saling berselisih harus langsung diselesaikan secara internal. Dilarang saling membicarakan di belakang.

    dikutip dari: General Manager JobsDB Chandra Ming dalam artikel di situs JobsDB.com

Silakan Berkomentar dan Mari Berbagi..!!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s