Ucapkanlah Salam, dan Istrimu Akan Semakin Cinta!


Oleh: Abu Hudzaifah

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam bersabda:

لاَ أَدُلُّكُمْ عَلَى أَمْرٍ إِذَا فَعَلْتُمُوهُ تَحَابَبْتُمْ أَفْشُوا السَّلاَمَ بَيْنَكُمْ

 “Maukah kalian aku beritahukan satu hal yang apabila kalian praktikkan, maka kalian akan saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kalian.” (HR. Abu Dawud)

RASULULLAH Shallallahu ‘alaihi Wassalam melarang para suami membuat kaget dengan kedatangannya secara mendadak, tanpa memberitahu lebih dahulu. Dan, bila seorang suami dating dari bepergian jauh, hendaknya memberitahu lebih dahulu kapan ia akan pulang. Jangan sampai, niat kita ingin member kejutan, malah menimbulkan kesalahpahaman, seperti yang terjadi pada sahabat Abdullah bin Rawahah berikut ini :

Dari Abu Salamah bahwasanya Abdullah bin Rawahah datang dari bepergian jauh di malam hari. Ia pun bergegas menemui istrinya. Ternyata di dalam rumah lampu masih menyala, dan ia melihat bersama istrinya ada sosok yang tengah tertidur. Ia pun segera menghunus pedangnya, namun tiba-tiba istrinya berkata, “Menjauhlah dariku. Ini adalah wanita yang biasa menyisir rambutku.” Abdullah bin Rawahah pun mendatangi Nabi dan menceritakan kejadian tersebut. Maka, Nabi melarang seorang suami mendatangi istrinya dari bepergian jauh di waktu malam.” (HR. Ahmad).

Kalau pun ia datang di malam hari, hendaklah seorang suami memberitahu terlebih dahulu kepada istrinya perihal waktu kedatangannya. Dan, setelah sampai di rumah, hendaklah ia mengucapkan sal;am kepadanya, sebagai bentuk berita bahwa ia telah datang. Insya Allah, resep ini akan membuahkan keharmonisan rumah tangga. Sejenak, mari kita simak kisah kehidupan keluarga Abu Muslim berikut, yang mengambarkan betapa nuasa relegi di tengah-tengah keluarga sangat membantu dalam mewujudkan kebahagiaan rumah tangga.

Dari Utsman bin Atha’, dari ayahnya, ia berkata, “Abu Muslim mempunyai sebuah kebiasaan, apabila pulan dari masjid ke rumah, setiba di depan pintu gerbangnya, ia bertakbir, lantas istrinya pun bertakbir. Bila ia berada di halaman rumahnya, ia bertakbir, Maka istrinya pun menyahut takbirnya dengan takbir pula. Dan, bila telah sampai didepan pintu rumah, ia pun bertakbir dan dIjawab dengan takbir pula oleh istrinya.

Pada suatu malam, ia pulang dari masjid dan bertakbir di depan pintu gerbangnya, akan tetapi tidak ada seorang pun yang menyahut takbirnya. Ketika berada di halaman rumah, ia kembali bertakbir, tapi juga tidak ada yang menyahut takbirnya. Setiba di pintu rumahnya, ia kembali bertakbir, akan tetapi tidak ada seorang pun yang menyahut takbirnya. Biasanya, ketika memasuk rumah, istrinya segera mengambil selendang dan alas kakinya, kemudian menghidangkan makanan kepadanya. Saat itu, ia memasuki rumahnya, ternyata di rumah tidak ada lampu yang menyala, sedangkan istrinya duduk teertunduk sambil menyandarkan dirinya pada sebatang tongkat yang dibawanya.

Abu Muslim pun bertanya kepadanya, “Apa yang terjadi padamu?”

Istrinya menjawab, “Engkau seorang yang mempunyai kedudukan di mata Mu’awiyah, sedangkan kita tidak mempunyai pembantu. Alangkah baiknya bila engkau meminta Mu’awiyah memberi kita seorang pembantu, pasti ia mau memberikan.”

Abu Muslim pun berucap, “Ya Allah, siapa saja yang telah merusak istriku, maka butakanlah matanya.”

Sebelum itu, istri Abu Muslim memang didatangi oleh seorang wanita yang berkata kepadanya, “Suamimu adalah orang yang memiliki kedudukan di mata Mu’awiyah, maka sebaiknya engkau memintanya agar ia meminta Mu’awiyah memberinya seorang pembantu, pasti Mu’awiyah mau memberinya dan kalian pun bisa hidup dengan senang.”

Ketika wanita itu sedang duduk di rumahnya, tiba-tiba matanya gelap. Wanita itu berkata, “Mengapa lampu kalian padam?” Keluarganya menjawab, “Tidak, lampu kita tidak ada yang padam.”

Wanita itu segera datang kepada Abu Muslim, menangis sambil memintanya mendoakannya kepada Allah supaya mengembalikan penglihatannya. Abu Muslim pun iba kepadanya, lalu berdoa kepada Allah, maka Allah pun memulihkan penglihatannya. (Al-Atqiya’ Al-Akhiffa’).

Perlu disadari bersama, bahwa untuk menghadirkan keharmonisan rumah tangga dapat diwujudkan menghadirkan nuasa ibadah di dalamnya. Sisi inilah yang jarang disadari oleh kalangan pasangan suami istri. Bahkan, kadang kita dapati rumah tangga yang kering dari nuasa relegi. Sehingga, jangan heran bila ada potret rumah tangga yang tak ubahnya seperti kuburan, saking keringnya dari nuansa religi.

Cabalah untuk mencoba untuk menghidupkan kembali semangat keagamaan yang dulu pernah berkobar-kobar, saat sebelum membangun rumah tangga. Dulu, ucapan salam saat bertemu merupakan kebiasaan yang tak lepas dari diri kita. Jabat tanggan saat bertemu dengan saudara, teman, dan kerabat merupakan perkara yang selalu menghiasi akhlak kita.

Namun, setelah berumah tangga, kebiasaan-kebiasaan positif seperti itu seolah lenyap dan sirna dari pribadi kita. Keluar masuk rumah tanpa mengucap salam. Saat hendak pergi kerja, tak ada tutur sapa dan jabat tangan dengan istri dan anak-anak. Kering, dan terlihat muram.

Kisah Abu Muslim di atas sangat cocok dijadikan potret dan cermin untuk keluarga kita. Tidak hanya salam, saling menyahut takbir serasa memberikan kehangatan dan keharmonisan antar suami istri. Menakjubkan sekaligus patut dicontoh. Semoga kehermonisan senantiasa menyapa keluarga kita. Wallahul musta’an.*

Sumber: http://hidayatullah.com

Penulis buku, tinggal di Solo, Jawa Tengah

Silakan Berkomentar dan Mari Berbagi..!!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s